Welcome to my blog, hope you enjoy reading :)
RSS

Friday, August 24, 2012

Budaya Hang Out Pada Anak





Menerima e-mail dari Pelangi Training Center. Bagus juga kalau direnungkan ;)

----------

Pada kalangan dewasa, hang out menjadi media untuk bersosialisasi atau meeting dengan rekan kerja. Menjamurnya tempat-tempat yang nyaman untuk berkumpul bersama rekan dan kolega, seperti restoran, mal dan kafe mendorong kebiasaan ini menjadi sebuah kebutuhan. Kini, budaya ini telah memasuki komunitas kecil karena pengaruh kehidupan sosial yang terbiasa berkumpul di tempat-tempat tertentu layaknya orang dewasa.

Menurut konselor pendidikan dari Universitas Paramadina, Fatchiah Kertamuda MSc, hang out diartikan sebagai aktivitas yang dilakukan bersama teman sebaya maupun keluarga untuk rileksasi ataupun bersenang-senang. Pada dasarnya anak belum mengerti benar arti dari hang out. Di dalam benak anak, hang out diartikan sebatas pergi dan bersenang-senang bersama. Kegiatan belajar bersama atau bermain di rumah teman pun dikategorikan sebagai kegiatan hang out.

Kebutuhan kegiatan hang out pada anak tentu berbeda dengan orang dewasa. Anak belum memiliki konsep kebutuhan layaknya orang dewasa. Mereka hanya mengikuti kebiasaan orang dewasa seperti mengobrol atau bersenda gurau di kafe, mal dan restoran. Namun, sebenarnya pada anak usia tertentu memang membutuhkan kegiatan untuk bersosialisasi. Hang out bisa jadi media untuk memenuhi tugas perkembangan anak. ”Mulai usia 7-8 tahun, anak belajar bergaul dengan teman sebaya, lebih mandiri, membentuk sikap terhadap kelompoknya, serta mengembangkan nurani, moralitas, dan sikap,” kata Fatchiah.

Psikolog perkembangan anak dari UI, Luth Savitri Msi,juga mengungkapkan kebersamaan dengan teman-teman menjadi hal penting bagi anak terutama di usia 9-10 tahun. Pada masa ini, anak ingin mencari tahu lingkungan di luar keluarga dan rumahnya, salah satu caranya hang out bersama teman. ’’Jadi jangan kaget jika terkadang anak terkesan suka membangkang atau memberontak karena pengaruh teman lebih besar dibandingkan orangtua,’’ ujarnya.   

Savitri menambahkan, Anak bisa mulai hang out tergantung dari lingkungan sosialnya, sejak kapan orangtua mengizinkan anak bersosialisasi bersama teman-temannya. Akan berbeda antara anak yang dibesarkan di lingkungan yang memiliki izin keluar rumah bersama teman-teman sejak SD, SMP, SMA, atau bahkan kuliah. Jika pada usia SD anak sudah diizinkan, maka budaya ini tentu lekat dan tidak asing dalam dirinya kelak, sehingga seringkali dijadikan kebutuhan oleh anak.

Melalui hang out, lanjut Savitri, anak juga dapat memastikan identitas dirinya, yaitu apakah tergolong populer atau tidak. Untuk masuk ke kelompok tertentu tak jarang anak akan memenuhi persyaratannya yang sering disebut dengan conformity. Alasan anak menyukai hang out, karena adanya perasaan kebersamaan bersama teman-teman. Mereka bisa sharing apapun tanpa takut dihakimi. ”Anak pun beranggapan dirinya sudah mampu menentukan pilihan, sehingga terkadang aturan dirasakan mengganggu. Sedangkan teman tidak memberikan aturan,” paparnya.

Ditambah lagi, anak bisa membuat keputusan untuk dirinya sendiri dan orang lain serta merasa bebas melakukan kegiatan apapun. Umumnya kegiatan hang out yang biasa anak lakukan antara lain, makan dan minum di restoran cepat saji sambil mengobrol atau tukar menukar barang koleksi, menonton di bioskop, belanja, dan main games.  ”Hang out dirasa anak sebagai salah satu kebutuhan tahapan perkembangan, yaitu kebutuhan sosialisasi dan autonominya,” kata Savitri.

Pengaruh Teman VS Kekhawatiran Orangtua

Kegiatan berkelompok ini juga sangat mempengaruhi perkembangan sosial anak antara lain keinginan anak menyesuaikan diri dengan tuntutan sosial. Melalui hubungan dengan teman sebaya, anak akan belajar berpikir secara mandiri, mampu mengambil keputusan, serta menerima pandangan dan nilai-nilai selain dari lingkungan keluarga. Untuk diterima dalam lingkungannya, anak akan mempelajari pola perilaku yang diterima kelompoknya.”Melalui kegiatan ini maka akan terjadi transfer nilai baik hal-hal positif hingga yang bersifat negatif, ” kata Fatchiah.

Tak jarang pula hal ini dapat mempengaruhi konsep diri anak. Apabila hang out tidak memberikan makna pada anak maka akan menyebabkan anak tidak nyaman dengan kelompoknya, misalnya minat atau kebiasaan dalam kelompoknya tidak sesuai dengan minatnya. Anak pun merasa ditolak dan tidak merasa diterima dalam kelompoknya. Alhasil, anak kesulitan menyesuaikan diri. ”Seringkali anak takut tidak diakui oleh teman-temannya sehingga akan berusaha mengikuti peraturan dalam kelompoknya meskipun buruk,” tambah Fatchiah.

Fatchiah juga menyayangkan pilihan tempat hang out anak yang belum sesuai dengan tahapan perkembangannya seperti kafe, atau restoran. Penyebabnya, tempat-tempat tersebut umumnya lebih besar dimasuki komunitas orang dewasa dibanding anak-anak. Sehingga anak-anak pun semakin dekat dengan kebiasaan orang dewasa seperti merokok dan sebagainya. Sebab itu, orangtua harus mengamati pilihan tempat hang out anak. Sebaiknya pilih tempat yang memang memiliki unsur edukasi dan sesuai untuk anak-anak, misalnya sanggar kesenian, kebun binatang, arena bermain, dan sebagainya.

Pilihan tempat dan kegiatan hang out yang salah dapat menimbulkan kekhwatiran pada orangtua. Rasa khawatir disebabkan anak akan terpengaruhi hal-hal yang buruk. Akibatnya orangtua membatasi ruang gerak anak dalam bersosialisasi. ”Ketakutan juga dikarenakan orangtua memiliki harapan tersendiri pada anak, jikalau anak tidak mencapai atau sesuai dengan norma keluarga, maka akan menimbulkan kekecewaan,” sebut Fatchiah.

Orangtua perlu menyikapi ketakutan dengan bijaksana. Sebaiknya pahami dulu kebutuhan anak dalam membina hubungan dengan teman-temannya. Caranya dengan memahami kondisi, kebiasaan, dan kegiatan yang dilakukan anak. Hang out bisa mengarah ke hal negatif jika orangtua tidak memantaunya. Coba libatkan diri dalam kegiatan hang out anak bersama teman-temannya. Jikalaupun anak tidak mengizinkan, orangtua bisa pergi dan pulang bersama anak. ”Yang terpenting, orangtua mengkomunikasikan alasan tindakannya. Jadi anak juga tidak merasa terkekang atau dimata-matai,” jelas Savitri.

Fatchiah mengatakan, sebenarnya kekhawatiran orangtua bisa ditekan, karena hang out juga berdampak positif bagi anak. Misalnya, anak belajar setia terhadap kelompok, menyesuaikan diri, bekerjasama, belajar bersaing sehat dan sportif. Banyak kegiatan positif yang bisa dilakukan anak antara lain kegiatan seni. ”Anak akan bergabung dengan komunitas hang out yang umumnya memiliki satu kesamaan atau identik baik itu minat, hobi, pola pikir dan sebagainya,” terangnya.  

Menurut Fatchiah, pola hang out menjadi cerminan pribadi serta bisa dijadikan indikator karakter dan kebiasaan anak. Jika anak bergaul dengan teman-teman yang memiliki prestasi, maka bisa dipastikan anak juga memiliki keinginan berprestasi, berperilaku dan konsep diri yang positif. ”Kelompok hang out anak merupakan pilihannya sendiri, orangtua bisa menilai karakter anak secara tak langsung dari kelompok teman-temannya,” ujarnya.   

Bahkan kebiasaan hang out anak merupakan cerminan pola asuh orangtua. Ini disebabkan nilai-nilai dalam keluarga akan mengarahkan anak dalam membuat pilihan termasuk memilih komunitas dan kegiatan bergaulnya. Sehingga, jangan lekas salahkan anak jika bergaul dengan lebih banyak teman yang berperilaku negatif. ”Mungkin saja, anak merasa ada kesamaan latar belakang pola asuh keluarganya dan memiliki ’teman’ ,” kata Fatchiah.

Savitri menambahkan, walaupun di masa ini teman memberikan pengaruh yang besar, nilai keluarga akan tetap dipegang anak apabila dikomunikasikan secara tepat. Coba diskusikan tentang baik buruknya suatu aktivitas, misalnya apabila anak mencoba narkoba atau seks bebas.  Sehingga akan lebih efektif daripada anak dilarang pacaran atau berteman tanpa pemberian penjelasan.

Ciptakan Hang Out Sehat untuk Anak

Karena kebutuhan untuk berteman memang merupakan bagian dari tahap perkembangannya, maka orangtua bisa melakukan beberapa hal yang membuat kekhawatiran berkurang. Intinya adalah mulai berikan kebebasan yang bertanggung jawab. Hal ini bisa efektif dilakukan apabila komunikasi antara orangtua dan anak berlangsung baik:
1.  Kenali anggota-anggota komunitas anak. Jika perlu, bertemanlah dengan orangtua dari mereka.Tanyakan pada anak melalui komunikasi layaknya teman anak.
2.  Mengetahui tempat-tempat favorit mereka.
3.  Untuk anak yang lebih muda, disarankan untuk menyertai mereka. Akan lebih mudah diterima anak apabila orangtua bergantian menyertai.
4.  Berikan aturan main kepada mereka, misalnya kapan saja boleh hang out dan waktu pulang.
5.  Yang paling penting ada bangun relasi yang baik dengan anak sejak awal. Hal ini memudahkan orangtua berkomunikasi dan berdiskusi dengan anak, baik tentang harapan dan aturan.


Sumber: Inspired Kids Magz
Diambil dari: http://www.pelangi-tc.com/information.php?type=news&id=56#56&utm_source=pelangi&utm_medium=email&utm_campaign=[Artikel]

----------

Aku pernah membaca sebuah buku (aku lupa buku apa) yang salah satu isinya adalah jangan membawa anak-anak ke pusat perbelanjaan seperti mal. Karena hal itu adalah salah satu pengenalan budaya konsumtif pada anak. Hal-hal kecil namun dampaknya sangat besar pada pola tingkah laku anak nantinya.



Love and Peace,
-MoNa-

2 CommentsChronological   Reverse   Threaded
amathonthe wrote on Jan 27, '10
haduh
aku mo hang out aja mikir2
kagak ada duit
mending ngumpul dikos,,makan cemilan
ehhee
mooncatz wrote on Jan 27, '10
haduh
aku mo hang out aja mikir2
kagak ada duit
mending ngumpul dikos,,makan cemilan
ehhee
setuju ^^

hm.. aku dulu juga begitu waktu kuliah.. sejak bekerja dan memiliki penghasilan sendiri, tampakna gaya hidup juga berubah TT___TT tapi resolusi 2010 sepertina akan merubah gaya hidupku: Menabung ;)
 
 
Post on MP: 25 Jan 2010
 
 
 

0 comments:

Post a Comment