Welcome to my blog, hope you enjoy reading :)
RSS

Tuesday, August 28, 2012

Kue Bolanya, Kak?




Kue bola di atas meja makan

Saat sedang terjebak di lampu merah daerah Rawabelong, seorang anak kecil menghampiriku.

"Kak, kue bolanya, Kak?"

Aku diam. Bukan karena ngga dengar. Tapi ingin meyakinkan diri bahwa dia berbicara denganku. Bukan dengan adikku yang mengendarai motor ataupun dengan pengendara motor lainnya. Arah matanya bergantian antara memandang ke adikku dan ke aku. Oh, maksudnya kami.

"Iya, Dik? Ada apa?" Tanyaku.

"Beli kue bola punyaku, Kak." Jawabnya.

Kue bola? Apa itu ya? Belum pernah dengar. Kulirik lampu lalu lintas yang masih berwarna merah, khawatir kalau-kalau berubah hijau dan aku masih terlibat percakapan dengan anak kecil ini. Ngga enak rasanya kalau dia ditinggal begitu saja.

"Satunya berapa?"

"Seribu, Kak."

Hmm.. Seribu. Berhubung aku ngga tahu rasanya bagaimana, tampaknya sayang kalau beli banyak.

"Beli dua yaa, Dik." Percobaan rasa dulu deh. Toh setiap pulang kerja, aku lewat sini.

Anak kecil tersebut lari sebentar ke arah trotoar di belakangku. Ia meletakkan dagangannya di sebuah keranjang yang ada di atas trotoar. Aku langsung meragukan kebersihannya. Cepat-cepat aku mencari dompet di dalam tas sambil melirik sebentar ke lampu lalu lintas. Warnanya masih merah. Tunggu sebentar ya, lampu. Jangan hijau dulu.

Kutemukan selembar uang dua ribuan di dalam dompetku dengan kondisi.. Masih baru. Uang baru adalah tabunganku di rumah sebab aku sayang menggunakannya. Bagaimana ini, pikirku. Kalau diberi uang yang lebih besar takutnya dia ngga ada kembalian. Kalaupun ada, dia pasti harus mengambilnya dulu dan lampu bisa berubah hijau dengan cepat. Terlintas sebuah cerita yang pernah mampir ke emailku tentang seorang yang sukses yang ketika ditanya apa rahasia kesuksesannya, dia menjawab "Saya selalu menyumbangkan uang baruan saat bertemu pengemis maupun di kotak amal masjid. Sebab rasanya tidak pantas kita beramal dengan uang yang sudah tidak bagus lagi." (Lebih-kurang, begitulah ceritanya).

Lalu, Bismillah, semoga aku ikhlas.

Anak kecil itu kembali ke motorku sambil membawa dua kue bola (aku baru lihat yang namanya kue bola) dengan satu tangannya. Tangan satunya lagi membawa plastik hitam. Ia memasukkan kue-kue itu ke dalam plastik.

Aku tersenyum padanya saat menerima plastik hitam itu dan menyerahkan uangku padanya.

"Kalau bakwan mau ngga, Kak?"

Aku terbengong-bengong. Haduuhhh kenapa ngga menawarkan dari tadi.. Aku suka sekali bakwan.

Suara bising kendaraan di sekitarku semakin keras. Tampaknya lampu akan segera berubah warna menjadi hijau.

"Lain kali ya, Dik.. Takut lampunya hijau.."

Anak kecil itu mengangguk. Benar saja, lampu segera hijau dan adikku langsung menjalankan motor dengan cueknya.

Sampai di rumah, aku letakkan kue-kue itu di atas meja makan.

"Apa ini?" Tanya Mamaku.

"Kue bola, Ma." Jawabku lalu menceritakan anak kecil penjual kue bola di lampu merah.

"Oh, ini sih kue ubi," kata Mama sambil makan satu kue bola.

Ubi? Aku ngga suka ubi. Coba tadi beli bakwannya..

"Wah.. Enak.. Yang satu lagi dikasih Bibi ya, Bibi suka ubi." Lebih mirip pernyataan dari pada pertanyaan, hehe.

Aku mengangguk. Enak? Alhamdulillah ^^ Lain kali aku beli kue bola lagi ah di anak itu, plus bakwannya juga. Tunggu aku yaa, adik kecil ^^


Love and Peace,
-MoNa-

4 CommentsChronological   Reverse   Threaded
faridalfa wrote on Mar 1, '10
kue bola....kyknya enak tuh, asal jgn makan kebanyakan aja. Nanti bisa-bisa ada bau gas keluar... hehe
rizkisweetycutie wrote on Mar 1, '10
jd menarik kal0 dkasi nama kue b0la
trus bskny bli bakwan mb?
mooncatz wrote on Mar 1, '10
faridalfa said
kue bola....kyknya enak tuh, asal jgn makan kebanyakan aja. Nanti bisa-bisa ada bau gas keluar... hehe
hihihi iya, untung dikasih tau Mama kalo itu ubi..
mooncatz wrote on Mar 1, '10
jd menarik kal0 dkasi nama kue b0la
trus bskny bli bakwan mb?
iya, mau coba bakwanna ahh ^^
 
 
Post on MP: 28 Feb 2010
 
 

0 comments:

Post a Comment